Terjemahan: The Interpretation of Dreams - Sigmun Freud - Sebuah Sketsa tentang Kehidupan dan Gagasannya Bagian II



Kepulangan ke Wina dan Lahirnya Psikoanalisis

Sekembalinya ke Wina pada musim semi tahun 1886, Freud membuka praktik pribadi sebagai konsultan penyakit saraf, dan tak lama kemudian ia menikah — pernikahan yang telah lama tertunda. Meski demikian, ia tidak langsung meninggalkan seluruh pekerjaannya di bidang neuropatologi. Selama beberapa tahun berikutnya, ia secara khusus meneliti cerebral palsy pada anak-anak dan kemudian diakui sebagai salah satu otoritas terkemuka dalam bidang tersebut. Pada masa ini pula, Freud menulis monograf penting mengenai afasia.

Namun, perhatian Freud semakin tertuju pada penanganan gangguan neurosis. Setelah melakukan berbagai percobaan yang gagal dengan terapi listrik (electrotherapy), ia beralih ke metode sugesti hipnotik. Pada tahun 1888, ia mengunjungi Nancy untuk mempelajari teknik hipnosis yang digunakan dengan keberhasilan besar oleh Liébeault dan Bernheim. Akan tetapi, hasilnya tetap tidak memuaskan, sehingga Freud terdorong untuk mencari pendekatan lain.

Ia mengetahui bahwa seorang sahabatnya, Dr. Josef Breuer — seorang konsultan medis senior di Wina — sekitar sepuluh tahun sebelumnya pernah menyembuhkan seorang pasien perempuan penderita histeria melalui suatu metode baru. Freud pun membujuk Breuer untuk mengembangkan kembali metode tersebut yang tampak menjanjikan hasil positif.

Metode itu didasarkan pada anggapan bahwa histeria merupakan hasil dari trauma psikis yang terlupakan oleh pasien; dan pengobatannya dilakukan dengan cara menempatkan pasien dalam keadaan hipnosis agar dapat mengingat kembali peristiwa traumatis tersebut beserta emosi yang menyertainya.

Tidak lama kemudian, Freud mulai melakukan perubahan terhadap prosedur maupun teori dasarnya. Perbedaan pandangan ini akhirnya menimbulkan perpecahan antara Freud dan Breuer, dan dari sinilah Freud mengembangkan secara mandiri suatu sistem pemikiran yang kelak ia beri nama psikoanalisis.

Sejak saat itu — kira-kira sejak tahun 1895 — hingga akhir hayatnya, seluruh kehidupan intelektual Freud berpusat pada pengembangan teori psikoanalisis, beserta implikasi-implikasinya yang luas, baik secara teoretis maupun praktis. Tentunya, tidak mungkin menggambarkan seluruh temuan dan gagasannya hanya dalam beberapa kalimat, namun nanti akan diupayakan untuk menyinggung secara singkat beberapa perubahan besar yang telah ia bawa terhadap cara berpikir manusia modern.

Sementara itu, kehidupan pribadi Freud di Wina berlangsung relatif tenang. Rumah dan ruang praktiknya berada di gedung yang sama sejak tahun 1891 hingga keberangkatannya ke London empat puluh tujuh tahun kemudian. Pernikahannya yang bahagia dan keluarganya yang berkembang — tiga putra dan tiga putri — menjadi fondasi kehidupan domestik yang kokoh di tengah kesibukan profesionalnya.

Namun, perjalanan karier akademiknya tidak lepas dari hambatan. Selain karena sifat revolusioner pemikirannya, faktor eksternal seperti sentimen anti-Semit yang kuat di kalangan pejabat Wina turut menghalangi pengangkatannya sebagai profesor universitas selama bertahun-tahun.

Salah satu aspek penting dari masa awal karier Freud yang patut disebutkan karena dampaknya yang besar adalah persahabatannya dengan Wilhelm Fliess, seorang dokter Berlin yang cemerlang namun eksentrik. Fliess, yang berspesialisasi di bidang telinga dan tenggorokan, memiliki minat luas terhadap biologi manusia serta pengaruh ritme periodik dalam proses-proses kehidupan.

Selama lima belas tahun — dari 1887 hingga 1902 — Freud secara teratur berkorespondensi dengannya, melaporkan perkembangan gagasan-gagasannya, mengirimkan draf panjang karya-karya yang sedang ia rancang, dan yang paling penting, menyertakan sebuah esai sekitar empat puluh ribu kata yang kemudian dikenal sebagai “Proyek untuk Psikologi Ilmiah” (Project for a Scientific Psychology).

Esai tersebut ditulis pada tahun 1895, masa yang dapat disebut sebagai “titik balik” dalam karier Freud — saat ia dengan enggan beralih dari psikologi dalam pengertian neurologis murni menuju pendekatan yang lebih psikodinamis. Naskah ini, bersama dengan seluruh surat-surat Freud kepada Fliess, secara kebetulan berhasil diselamatkan dan kini menjadi sumber yang sangat berharga.

Kumpulan dokumen tersebut memberikan gambaran yang menakjubkan tentang perkembangan pemikiran Freud dan memperlihatkan bahwa banyak temuan utama dalam psikoanalisis telah ada dalam benaknya sejak tahap awal kariernya.

Tahun-Tahun Akhir dan Warisan Freud

Selain hubungannya dengan Wilhelm Fliess, pada awal kariernya Freud hampir tidak memiliki dukungan eksternal. Secara perlahan ia berhasil mengumpulkan beberapa murid di Wina, tetapi baru sekitar tahun 1906 — hampir sepuluh tahun kemudian — terjadi perubahan besar ketika sejumlah psikiater Swiss mulai menerima dan mendukung pandangan-pandangan Freud. Tokoh paling menonjol di antara mereka adalah Eugen Bleuler, kepala rumah sakit jiwa Zürich, dan muridnya, Carl Gustav Jung.

Dukungan dari kelompok Swiss ini menandai awal tersebarnya psikoanalisis secara internasional. Freud dan Jung diundang untuk memberikan serangkaian kuliah di Amerika Serikat, dan sejak saat itu karya-karya Freud mulai diterjemahkan ke berbagai bahasa. Kelompok-kelompok analis yang mempraktikkan psikoanalisis pun bermunculan di berbagai belahan dunia.

Namun, perkembangan pesat psikoanalisis tidak berjalan tanpa hambatan. Tema-tema yang digali Freud menimbulkan gejolak batin yang terlalu dalam bagi banyak kalangan untuk menerimanya dengan mudah. Pada tahun 1911, salah satu pendukung terkemuka Freud di Wina, Alfred Adler, memisahkan diri karena perbedaan pandangan. Dua atau tiga tahun kemudian, Jung pun melakukan hal yang sama setelah perselisihan teoretis yang semakin tajam dengan Freud.

Tak lama setelah perpecahan tersebut, meletuslah Perang Dunia I, yang menghentikan sementara penyebaran internasional psikoanalisis. Tidak lama kemudian, Freud mengalami tragedi pribadi yang berat: kematian salah satu putrinya dan cucu kesayangannya, disusul dengan munculnya penyakit ganas yang akan menghantuinya selama enam belas tahun terakhir hidupnya.

Meskipun begitu, semua penderitaan itu tidak pernah menghentikan perkembangan pemikiran Freud. Ia terus melanjutkan penelitian, memperluas bangunan teorinya, dan menerapkannya pada bidang-bidang yang semakin luas — terutama dalam kajian sosiologis dan kebudayaan.

Pada masa ini, Freud telah diakui secara luas sebagai tokoh dengan reputasi dunia. Dari berbagai penghargaan yang diterimanya, tidak ada yang lebih membahagiakan baginya selain pengangkatannya sebagai Anggota Koresponden Royal Society pada tahun 1936, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80.

Ketenarannya, disertai dukungan dari para pengagum berpengaruh — termasuk, menurut kabar, Presiden Franklin D. Roosevelt — kemungkinan besar turut melindunginya dari tindakan paling brutal rezim Nazi ketika Hitler menduduki Austria pada tahun 1938, meskipun penerbitannya disita dan sebagian besar karyanya dihancurkan.

Walau demikian, kepergian Freud dari Wina menjadi hal yang tak terelakkan. Pada bulan Juni tahun itu, ia bersama sebagian keluarganya berangkat menuju London, tempat ia menghabiskan tahun-tahun terakhir kehidupannya. Di sanalah, pada 23 September 1939, Sigmund Freud meninggal dunia — meninggalkan warisan pemikiran yang mengubah cara manusia memahami jiwa, budaya, dan dirinya sendiri.
 

Komentar

Postingan Populer