Terjemah: The Interpretation of Dreams - Sigmund Freud - Sebuah Sketsa tentang Kehidupan dan Gagasannya Bagian III
Awal Perkembangan Psikoanalisis dan Instrumen Ilmiah Freud
Telah menjadi sebuah klise dalam dunia jurnalisme untuk menyebut Freud sebagai salah satu pendiri revolusioner pemikiran modern dan untuk menyandingkan namanya dengan Einstein. Namun demikian, kebanyakan orang akan mendapati bahwa merangkum perubahan yang diperkenalkan oleh keduanya sama sulitnya.
Penemuan-penemuan Freud dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama: pertama, instrumen penelitian yang ia ciptakan; kedua, temuan-temuan yang dihasilkan melalui instrumen tersebut; dan ketiga, hipotesis teoretis yang disimpulkan dari temuan-temuan itu. Ketiga kelompok ini, tentu saja, saling berkaitan satu sama lain. Akan tetapi, di balik seluruh karya Freud, terdapat keyakinannya terhadap keabsahan universal hukum determinisme. Dalam kaitannya dengan gejala-gejala fisik, keyakinan ini barangkali berasal dari pengalamannya di laboratorium Brucke dan, pada akhirnya, dari aliran pemikiran Helmholtz. Namun Freud memperluas keyakinan tersebut secara tegas ke ranah fenomena mental, dan dalam hal ini ia kemungkinan dipengaruhi oleh gurunya, psikiater Meynert, serta secara tidak langsung oleh filsafat Herbart.
Pertama dan terutama, Freud adalah penemu instrumen pertama untuk pemeriksaan ilmiah terhadap pikiran manusia. Sebelumnya, para sastrawan besar memang memiliki pandangan-pandangan intuitif tentang proses mental, tetapi belum ada metode penyelidikan yang sistematis sebelum Freud. Instrumen tersebut disempurnakannya secara bertahap, seiring dengan munculnya kesadaran akan berbagai kesulitan dalam melakukan penelitian semacam itu. Trauma yang terlupakan dalam penjelasan Breuer tentang histeria menjadi permasalahan awal dan mungkin pula yang paling mendasar, sebab hal itu menunjukkan secara meyakinkan bahwa terdapat bagian-bagian aktif dalam pikiran manusia yang tidak langsung dapat diamati, baik oleh pengamat luar maupun oleh individu itu sendiri. Bagian-bagian pikiran inilah yang oleh Freud disebut, tanpa memperhatikan perdebatan metafisis atau terminologis, sebagai ketidaksadaran (the unconscious).
Eksistensi ketidaksadaran ini juga terbukti melalui fenomena tindakan pascahipnosis, yakni tindakan yang dilakukan seseorang berdasarkan saran yang pernah diberikan kepadanya, meskipun ia telah sama sekali lupa akan saran tersebut. Dengan demikian, pemeriksaan terhadap pikiran manusia tidak dapat dianggap lengkap tanpa mencakup bagian tak sadar itu. Lalu, bagaimana hal ini dapat dilakukan? Jawaban yang tampak jelas pada waktu itu adalah melalui sugesti hipnotis—instrumen yang digunakan oleh Breuer dan, pada awalnya, juga oleh Freud. Namun kemudian terbukti bahwa metode ini tidak sempurna, karena hasilnya tidak teratur, tidak pasti, dan kadang sama sekali tidak efektif.
Sedikit demi sedikit, Freud pun meninggalkan penggunaan sugesti dan menggantinya dengan instrumen yang sama sekali baru, yang kemudian dikenal sebagai asosiasi bebas (free association). Ia menerapkan cara yang belum pernah didengar sebelumnya, yakni dengan meminta orang yang sedang diteliti untuk mengucapkan apa pun yang terlintas dalam pikirannya, tanpa penyaringan atau pengendalian diri. Keputusan penting ini segera menghasilkan temuan yang menakjubkan: bahkan dalam bentuknya yang paling sederhana, instrumen Freud ini membuka wawasan baru. Sebab, meskipun pada awalnya aliran asosiasi berlangsung lancar, cepat atau lambat aliran tersebut akan terhenti; subjek tidak mau atau tidak mampu lagi mengemukakan sesuatu.
Di sinilah muncul fenomena yang disebut “resistensi”, yaitu adanya kekuatan dalam diri subjek yang terpisah dari kehendak sadarnya, yang menolak bekerja sama dengan proses penyelidikan. Fakta ini menjadi dasar bagi penyusunan teori yang sangat mendasar: hipotesis bahwa pikiran bersifat dinamis, terdiri atas berbagai kekuatan mental—sebagian sadar dan sebagian tak sadar—yang beroperasi, kadang secara selaras dan kadang pula saling bertentangan satu sama lain.
Dari Analisis Diri hingga Struktur Psikis
Meskipun fenomena-fenomena ini pada akhirnya terbukti bersifat universal, pengamatan dan kajian awalnya dilakukan terhadap pasien-pasien neurotik. Tahun-tahun awal karya Freud sebagian besar dihabiskan untuk mencari cara mengatasi resistensi pasien-pasien tersebut dan mengungkap apa yang tersembunyi di baliknya. Solusi baru ditemukan melalui suatu tindakan luar biasa berupa pengamatan diri yang mendalam — yang kini dikenal sebagai analisis diri Freud.
Kita beruntung memiliki deskripsi langsung mengenai peristiwa ini melalui surat-surat Freud kepada Fliess yang telah disebutkan sebelumnya. Melalui analisis diri ini, Freud berhasil merumuskan teknik-teknik untuk mengatasi atau menghindari resistensi dalam diri pasiennya. Lebih dari itu, analisis ini memungkinkan Freud memahami perbedaan mendasar antara cara kerja proses-proses tidak sadar dan proses-proses sadar yang telah dikenal sebelumnya.
Ketiga aspek ini — resistensi, dinamika ketidaksadaran, dan perbedaan antara proses sadar dan tidak sadar — membentuk inti kontribusi Freud terhadap pengetahuan kita tentang pikiran manusia.
Isi ketidaksadaran ternyata sepenuhnya terdiri atas aktivitas kecenderungan konatif — hasrat atau keinginan — yang memperoleh energinya langsung dari dorongan instingtif primer. Aktivitas ini berfungsi tanpa mempertimbangkan apa pun selain pemuasan segera, sehingga sering kali tidak sejalan dengan unsur-unsur kesadaran yang berhubungan dengan penyesuaian terhadap realitas dan penghindaran bahaya eksternal. Lebih jauh lagi, karena kecenderungan primitif tersebut sebagian besar bersifat seksual atau destruktif, maka konflik dengan kekuatan mental yang lebih sosial dan beradab tidak dapat dihindarkan. Penyelidikan ke arah ini membawa Freud pada penemuan rahasia kehidupan seksual anak-anak yang lama tersembunyi serta konsep terkenal yang disebut kompleks Oedipus.
Selanjutnya, analisis diri tersebut menuntun Freud pada penyelidikan mengenai hakikat mimpi. Ia menemukan bahwa mimpi, seperti halnya gejala-gejala neurotik, merupakan hasil konflik dan kompromi antara dorongan tidak sadar yang primer dan dorongan sadar yang sekunder. Dengan menganalisis mimpi ke dalam unsur-unsurnya, dimungkinkan untuk menyimpulkan isi tidak sadar yang tersembunyi di baliknya. Karena mimpi merupakan fenomena umum yang dialami hampir semua orang, penafsirannya menjadi salah satu perangkat teknis paling berguna untuk menembus resistensi pada pasien neurotik.
Akhirnya, pemeriksaan teliti terhadap mimpi memungkinkan Freud mengklasifikasikan perbedaan mencolok antara apa yang ia sebut proses primer dan proses sekunder dalam berpikir — yakni perbedaan antara peristiwa-peristiwa di wilayah tidak sadar dan wilayah sadar pikiran. Dalam ranah tidak sadar, tidak ditemukan adanya organisasi atau koordinasi: setiap dorongan berusaha mencapai kepuasan secara independen; dorongan-dorongan itu tidak saling memengaruhi, kontradiksi tidak berlaku, dan dorongan yang saling berlawanan dapat hidup berdampingan. Demikian pula, dalam ketidaksadaran, asosiasi ide berlangsung tanpa memperhatikan logika: kesamaan diperlakukan sebagai identitas, hal negatif disamakan dengan hal positif. Selain itu, objek tempat dorongan konatif melekat dalam ketidaksadaran bersifat sangat mudah berubah — satu objek dapat digantikan oleh objek lain sepanjang rantai asosiasi yang sama sekali tidak rasional. Freud menyadari bahwa ciri-ciri yang termasuk dalam proses primer inilah yang menjelaskan keanehan tidak hanya pada mimpi, tetapi juga pada banyak peristiwa mental normal maupun patologis lainnya.
Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa seluruh bagian akhir karya Freud merupakan perluasan dan pengembangan besar-besaran dari gagasan-gagasan awal ini. Prinsip-prinsip tersebut diterapkan untuk menjelaskan mekanisme bukan hanya pada psikoneurosis dan psikosis, tetapi juga pada proses normal seperti kekeliruan berbicara (slips of the tongue), pembuatan lelucon, penciptaan artistik, lembaga politik, hingga agama. Temuan-temuan ini turut memberikan perspektif baru pada berbagai ilmu terapan seperti arkeologi, antropologi, kriminologi, dan pendidikan, serta menjadi dasar bagi pemahaman efektivitas terapi psikoanalisis.
Akhirnya, Freud membangun di atas dasar pengamatan-pengamatan elementer ini suatu bangunan teoretis yang lebih luas, yang ia sebut metapsikologi, berisi konsep-konsep umum tentang kerja kejiwaan. Namun, sebagaimana sering ia tekankan, teori-teori ini bersifat hipotesis sementara. Bahkan di masa tuanya, karena menyadari kerancuan istilah ketidaksadaran dan banyaknya tafsir yang bertentangan, Freud mengajukan model struktural baru tentang jiwa manusia. Dalam model ini, dorongan naluriah yang tidak terkoordinasi disebut id, bagian yang terorganisir dan realistis disebut ego, dan fungsi kritis serta moral disebut super-ego. Model baru ini membantu memperjelas banyak persoalan dalam pemahaman dinamika kepribadian manusia.

Komentar
Posting Komentar