Puisi: Perihal Isi Perut


Ku cium bau
tanah menyeruak
dari mulut idealisme.
Sudah
berapa tahun kamu
tidak makan?

Nampaknya,
segumpal undang-undang
menyangkut di tenggorokanmu.

Mengakar dan menancap
diantara rongga-rongga
makan dan bernafas.

Hendak ke mana
Kau berlari?

Kolong jembatan telah penuh
dan berjejal orang-orang
terpinggirkan.

Yang tak punya tenaga
Dan,
berharap sesuap belas-
kasih di persimpangan keadilan

Lihatlah, wahai kamu
yang sebentar lagi Mati!

Diantara sungut-
sungut orang berpeci yang
mengumbar janji berulang.

Tergambar belatung
yang keluar dari deretan
gigi oligarki.

Yang rakus memakan
Jantung Ibu Pertiwi.

Wahai kamu, yang menyeruak
Dan, sekarat. Berasal dari pikiran-pikiran yang dibungkam.

Aku melihat sepasang
rusukmu keropos.

Apakah ia mampu menahan
sesaknya ketidakadilan?

Perutmu. Lihat perutmu!
Kencot dan tak berisi.

Kemana buku-
buku yang selama ini
Kau kunyah setiap hari?

Ini, makanlah sesuap kebodohan
sebelum polisi
suruhan politisi menjemput!


Komentar

Postingan Populer