Terjemahan: The Interpretation of Dreams - Sigmund Freud - Sebuah Sketsa tentang Kehidupan dan Gagasannya Bagian I


Sigmund Freud lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, sebuah kota kecil di Moravia, yang pada waktu itu merupakan bagian dari Austria-Hongaria. Secara lahiriah, delapan puluh tiga tahun kehidupannya berlangsung tanpa banyak peristiwa besar, sehingga tidak memerlukan uraian sejarah yang panjang.

Freud berasal dari keluarga Yahudi kelas menengah dan merupakan anak sulung dari istri kedua ayahnya. Posisi Freud dalam keluarga cukup unik, karena ayahnya telah memiliki dua anak laki-laki dewasa dari pernikahan pertama. Kedua saudara tirinya itu berusia lebih dari dua puluh tahun lebih tua darinya, dan salah satunya bahkan sudah menikah serta memiliki seorang anak laki-laki kecil; dengan demikian, Freud sebenarnya “lahir sebagai seorang paman.” Keponakan inilah yang, setidaknya pada masa-masa awal kehidupannya, memainkan peran yang tak kalah penting dibanding adik-adiknya sendiri, yang kemudian berjumlah tujuh orang dan lahir setelah dirinya.

Ayahnya adalah seorang pedagang wol yang tak lama setelah kelahiran Freud mengalami kesulitan dalam usaha dagangnya. Oleh karena itu, ketika Freud berusia tiga tahun, sang ayah memutuskan untuk meninggalkan Freiberg. Setahun kemudian, seluruh keluarga menetap di Wina, kecuali dua saudara tiri tertua beserta keluarga mereka, yang memilih untuk tinggal di Manchester. Pada beberapa tahap dalam kehidupannya, Freud sempat mempertimbangkan untuk bergabung dengan mereka di Inggris, namun rencana tersebut tidak pernah terwujud — setidaknya hingga hampir delapan puluh tahun kemudian.

Kehidupan di Wina

Selama masa kanak-kanaknya di Wina, keluarga Freud hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Namun, berkat perhatian dan pendidikan yang diberikan ayahnya, kecerdasan alami serta ketekunan Freud dapat berkembang dengan baik. Ia menunjukkan kemampuan belajar yang menonjol, sehingga pada usia sembilan tahun berhasil diterima di Gymnasium (setingkat sekolah menengah atas berorientasi akademik). Selama enam tahun terakhir dari delapan tahun masa pendidikannya di sana, Freud secara konsisten menempati peringkat teratas di kelasnya.

Ketika lulus dari sekolah pada usia tujuh belas tahun, arah karier Freud masih belum pasti. Pendidikan yang ia tempuh hingga saat itu bersifat umum dan luas. Meskipun tampak jelas bahwa ia akan melanjutkan studi ke universitas, beberapa fakultas masih terbuka baginya untuk dipilih.

Freud menegaskan lebih dari sekali bahwa sepanjang hidupnya ia tidak pernah memiliki ketertarikan khusus terhadap profesi kedokteran. Ia menulis, “Saya terdorong, bukan oleh panggilan untuk menjadi dokter, melainkan oleh semacam rasa ingin tahu yang lebih terarah pada persoalan manusia daripada pada objek-objek alam.” Dalam kesempatan lain, ia menulis:

“Saya tidak memiliki ingatan pernah merasakan dorongan di masa kecil untuk menolong umat manusia yang menderita... Pada masa muda saya justru merasakan kebutuhan yang sangat kuat untuk memahami teka-teki dunia tempat kita hidup ini — dan mungkin, untuk turut memberikan sedikit sumbangan bagi pemecahannya.”
Dalam sebuah tulisan lain, ketika membahas studi-studi sosiologisnya di tahun-tahun terakhir kehidupannya, Freud menambahkan:

“Ketertarikan saya, setelah menempuh jalan panjang melalui ilmu alam, kedokteran, dan psikoterapi, akhirnya kembali lagi pada persoalan-persoalan kebudayaan — yang sebenarnya telah memesona saya sejak lama, bahkan ketika saya masih terlalu muda untuk berpikir secara mendalam.”

Awal Pilihan Karier Ilmiah Freud

Faktor yang secara langsung menentukan pilihan Freud untuk menempuh karier ilmiah, sebagaimana ia ceritakan, adalah kehadirannya — tepat saat ia menamatkan sekolah — dalam sebuah pembacaan publik terhadap sebuah esai berbunga-bunga tentang “Alam,” yang dikaitkan (meskipun tampaknya keliru) dengan Goethe. Namun, jika pilihannya jatuh pada bidang ilmu pengetahuan, maka pertimbangan praktis menyempitkannya menjadi studi kedokteran. Dengan demikian, Freud mendaftar sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Wina pada musim gugur tahun 1873, saat berusia tujuh belas tahun.

Meski demikian, ia tidak terburu-buru untuk meraih gelar dokter. Pada tahun-tahun awal kuliahnya, Freud mengikuti perkuliahan dari berbagai bidang, sebelum akhirnya memusatkan perhatian terlebih dahulu pada biologi, lalu pada fisiologi. Penelitian ilmiah pertamanya dilakukan pada tahun ketiganya di universitas, ketika Profesor Anatomi Perbandingan menugaskannya untuk meneliti suatu detail anatomi pada belut — sebuah pekerjaan yang menuntutnya membedah sekitar empat ratus ekor belut.

Tak lama kemudian, ia bergabung dengan Laboratorium Fisiologi di bawah bimbingan Ernst Brücke, dan bekerja di sana dengan penuh semangat selama enam tahun. Dari Brücke inilah Freud kemungkinan besar memperoleh dasar-dasar pandangannya terhadap ilmu pengetahuan alam secara umum. Selama masa tersebut, ia terutama meneliti anatomi sistem saraf pusat dan mulai menghasilkan sejumlah publikasi ilmiah.

Namun, semakin jelas bahwa pekerjaan laboratorium semacam itu tidak mampu memberikan penghidupan yang layak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang besar di rumah. Karena itu, pada tahun 1881 Freud akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan gelar kedokterannya, dan setahun kemudian — dengan sangat enggan — ia meninggalkan posisinya di bawah Brücke untuk mulai bekerja di Rumah Sakit Umum Wina (Vienna General Hospital).

Perubahan Arah dalam Kehidupan Freud

Perubahan arah dalam kehidupan Freud akhirnya ditentukan oleh sesuatu yang lebih mendesak daripada sekadar pertimbangan keluarga. Pada bulan Juni 1882, ia bertunangan — dan sejak saat itu seluruh usahanya diarahkan untuk mewujudkan pernikahan tersebut. Tunangannya, Martha Bernays, berasal dari keluarga Yahudi terkemuka di Hamburg. Meskipun pada awalnya tinggal di Wina, tak lama kemudian ia harus kembali ke kampung halamannya yang jauh di Jerman Utara. Selama empat tahun berikutnya, Freud hanya dapat menemuinya dalam kunjungan singkat, dan keduanya harus puas berkomunikasi melalui surat-menyurat yang hampir dilakukan setiap hari.

Freud kemudian bertekad untuk membangun posisi dan reputasi dalam dunia kedokteran. Ia bekerja di berbagai departemen rumah sakit, tetapi segera memusatkan perhatian pada bidang neuroanatomi dan neuropatologi.

Pada masa ini pula, Freud menerbitkan penelitian pertamanya mengenai kemungkinan penggunaan medis dari kokain; dan dari penelitian inilah kemudian Koller terinspirasi untuk memanfaatkan zat tersebut sebagai anestesi lokal.

Tak lama setelah itu, Freud menetapkan dua tujuan utama dalam kariernya: yang pertama adalah memperoleh jabatan sebagai Privatdozent — suatu posisi yang kurang lebih setara dengan dosen universitas di Inggris — dan yang kedua adalah mendapatkan beasiswa perjalanan yang memungkinkannya menghabiskan waktu di Paris, tempat tokoh besar Jean-Martin Charcot menjadi figur sentral dunia kedokteran saraf.

Kedua tujuan tersebut diyakini Freud akan memberikan keuntungan besar bagi pengembangan kariernya. Setelah perjuangan keras, pada tahun 1885 ia berhasil meraih keduanya.
 
Bulan-bulan yang dihabiskan Freud di bawah bimbingan Charcot di Salpêtrière — rumah sakit terkenal di Paris yang khusus menangani penyakit saraf — membawa perubahan besar dalam arah hidupnya, kali ini bersifat revolusioner.

Sampai saat itu, seluruh karya Freud berfokus pada ilmu pengetahuan alam murni, dan bahkan ketika berada di Paris ia masih melakukan penelitian histologis terhadap otak. Namun, perhatian Charcot pada masa itu terpusat pada studi mengenai histeria dan hipnotisme — dua bidang yang, di kalangan ilmuwan tempat asal Freud, dianggap kurang terhormat secara akademis.

Kendati demikian, Freud justru terpesona olehnya. Ia menekuni kedua bidang tersebut dengan penuh minat, dan meskipun Charcot memandangnya semata-mata sebagai cabang dari neuropatologi, bagi Freud pengalaman ini menandai awal dari penyelidikan baru yang kelak menjadi pusat seluruh hidup dan karyanya — penyelidikan terhadap pikiran manusia.

Komentar

Postingan Populer