Khutbah Jumat: Sistem Waktu Suci

 



Khutbah 1

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ،َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ3


Jamaah sidang jum’at yang dimuliakan oleh allah.

Wal Ashri, demi waktu. Allah SWT telah bersumpah atas nama waktu. Bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian! Namun apakah waktu itu nyata, atau hanya ilusi persepsi manusia? Para filsuf sepanjang zaman bertanya, dan Islam memberikan jawabannya: waktu adalah makhluk Allah—bukan absolut seperti ruang Newtonian, bukan pula ilusi seperti kata kaum skeptis. Waktu adalah amanah yang kita habiskan untuk menjawab pertanyaan kenapa kita diciptakan.

Kaum muslimin yang sama-sama mengharap ridho Allah.

Sesungguhnya, dalam kehidupan modern ini, kita hidup dalam sistem yang dikendalikan oleh peradaban materialistik. Hal ini sangat menjauhkan manusia dari fitrah waktu yang suci. Kalender masehi, sistem jam kerja, bahkan konsep waktu produktif — semuanya disusun dalam kerangka berpikir duniawi yang sangat mekanis dan menafikan peranan Allah SWT.

Lebih jauh lagi, Syeikh Imron Nassar Hosein memperingatkan kita, bahwa sesunguhnya kehidupan modern ini berjalan menurut sistem waktu yang telah diatur oleh Al-Masihud-Dajjal. Sistem yang menipu dan menyesatkan, menyamarkan yang haq dengan yang batil, memperlambat kebaikan dan mempercepat kerusakan. Waktu yang seharusnya menjadi sarana taqarrub kepada Allah, malah menjadi ladang kesibukan dunia yang tak berujung.

Sebagai mana penggalan firman Allah yang khotib bacakan tadi, pada Quran Surat At-Taubah ayat 36 yang artinya:
Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus

Dan, jika kita menggunakan metode tafsir bi riwayah, kita akan menemukan penjelasan lebih rinci pada surah Yunus ayat 5 dan 6:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

اِنَّ فِى اخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللّٰهُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَّقُوْنَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dialah pula yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu, kecuali dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada kaum yang mengetahui.

Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi kaum yang bertakwa.

Saudara-saudara ku seiman.

Khotib tidak mengajak kita semua menelan mentah-mentah informasi dan juga pernyataan keras dari Syeikh Imran Nazar Hosein. Mari kita telaah bersama lewat berbagai persfektif, baik sejarah dan juga ilmiah, tentunya dengan menggunakan Al-Quran dan Hadist sebagai landasan. Semoga Allah menuntun kita kepada jalan orang-orang yang menegakan syariatNya.

Sudah saatnya kita berkelana di alam sejarah pembuatan Kalender Masehi. Tentunya, kita tidak bisa menutup mata bahwa kalender ini adalah proyek rekonstruksi waktu yang lahir dari kosmologi pagan Romawi. Sekitar tahun 45 sebelum Masehi, Julius Caesar—seorang jenderal Romawi—membentuk kalender baru dengan bantuan seorang ahli astronomi asal Alexandria bernama Sosigenes.

Mereka mengganti kalender lunar Romawi dengan sistem kalender solar. Lalu disebutlah Kalender Julian, yang menyesuaikan waktu berdasarkan perputaran matahari. Mereka membaginya menjadi 12 periode, lalu memotong 2 hari pada bulan februari untuk ditempatkan di bulan Juli dan Agustus. Sehingga pada 2 bulan itu tetap terbilang 31 hari. Hanya sekedar untuk mengagungkan Julius Caesar dan Augustus Caesar.

Kemudian Islam datang membawa revolusi: mengembalikan waktu kepada fitrahnya, yaitu bulan sebagai penentu, dan Allah sebagai pemilik segala perubahan. Seperti yang telah diriwayatkan dalam hadis Muslim nomor 1080 yang berbunyi:

وَحَدَّثَنِي زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ: حَدَّثَنَا إِسۡمَاعِيلُ، عَنۡ أَيُّوبَ، عَنۡ نَافِعٍ، عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا؛ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّمَا الشَّهۡرُ تِسۡعٌ وَعِشۡرُونَ، فَلَا تَصُومُوا حَتَّىٰ تَرَوۡهُ، وَلَا تُفۡطِرُوا حَتَّىٰ تَرَوۡهُ، فَإِنۡ غُمَّ عَلَيۡكُمۡ فَاقۡدِرُوا لَهُ

Telah menceritakan kepada saya Zubair Ibnu Harb, telah menceritakan kepada kami Ismail dari Ayyub dari Nafi' dari Ibn Umar r.a berkata : bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya jumlah bulan itu adalah 29 hari. Janganlah kamu berpuasa hingga melihat hilal dan janganlah kamu beridulfitri sebelum melihat hilal, Jika hilal terhalang oleh awan terhadapmu, maka hitunglah.” (HR. Muslim, 1080/6).

Dengan jelas Rasulullah ﷺ menyandarkan waktu kepada penglihatan terhadap bulan, adapun jika hendak menghitungnya, maka kita harus mendasarkan hitungan itu pada peredaran bulan. Jika demikian, maka di mana kita berdiri saat ini? Apakah kita masih mengikuti sunnah langit, atau ingin tetap hanyut dalam arus penipuan Dajjal?

Perlu kita ingat juga pengaruh kolonialisme yang terjadi pada abad 16. Kalender masehi ini direvisi oleh Paus Gregorius XIII untuk menyempurnakan ketidaktepatan waktu akibat sistem Julian. Maka lahirlah Kalender Gregorian, yang kini menjadi standar internasional. Sejak saat itu, manusia hidup di bawah sistem penanggalan yang ditetapkan oleh gereja dan kekuasaan, bukan oleh langit dan syariat. Kalender ini tidak bersifat netral. Ia membawa serta warisan kosmologi Romawi dan proyek Kristenisasi Eropa, yang secara halus menjauhkan umat dari keterhubungan dengan waktu ilahiah.

Melihat fakta itu, apakah dalam diri kita tidak timbul keresahan? Setidaknya untuk sekedar menengadah ke langit dan melihat singkronisasi tanggal masehi dengan siklus bulan. Lalu apakah kita menerima semua ini begitu saja sampai Dajjal dalam bentuk jasad datang?

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Khutbah 2

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Jamaah sidang jumat yang dimuliakan oleh Allah.

Demi waktu. Sungguh, kerusakan yang diakibatkan oleh Dajjal atas sistem ini sudah sangat kompleks dan komprehensif. Bukan hanya sistem tahun, bulan, minggu, hari bahkan sampai hitungan jam sekalipun sudah diputar-balikan dari fitrahnya. Khotib tidak mungkin menjelaskannya di sini secara terperinci. Sebagai salah satu contoh saja, khotib ingin mengajak jamaah mentadaburi, Maha Suci Allah, karena waktu solat tidak tunduk kepada sistem waktu mekanis seperti jam sekolah. Bayangkan saja jika jadwal solat ditetapkan berdasarkan jam dan bersifat statis.

Solat subuh tetap pada jam 4 pagi. Solat Dhuhur jam 12. Dan seterusnya. Tentunya itu adalah suatu kedzoliman yang nyata. Tidak ada sarana lain pada zaman modern ini menyelaraskan frekuensi diri kita selaku mikro kosmos dengan makro kosmos, selain lewat solat. Karena sesungguhnya, perubahan waktu solat yang terjadi saat ini, tidak lain dan tidak bukan karena mengikuti gerak alam raya.

Dan juga, suatu keberuntungan jika kita masih merasakan waktu bergulir penuh makna. Mengukir cerita-cerita kehidupan yang penuh dengan pembelajaran. Dan membicarakan hal ini, hati kita pasti akan terpaut pada sebuah hadist riwayat Ahmad, Rasulullah SAW mengingatkan, bahwa semakin dekat hari kiamat, waktu akan bergulir semakin singkat:




لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونُ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ وَتَكُونُ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ وَيَكُونُ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ وَتَكُونُ السَّاعَةُ كَالضَّرَمَةِ بِالنَّارِ




“Kiamat tidak akan terjadi hingga waktu terasa berlalu begitu cepatnya. Satu tahun terasa seperti satu bulan, satu bulan seperti seminggu, satu minggu seperti satu hari, dan satu hari seperti satu jam, dan satu jam seperti kedipan mata.” (HR: Ahmad).

Jamaah sekalian. Para ilmuwan modern kini mulai memahami betapa misterius dan luar biasanya ciptaan Allah yang bernama waktu. Dalam jurnal Reports in Advances of Physical Sciences, Volume 9 (artikel 2.550.004) terbit 22 Syawal 1446 H, Dr. Gunther Kletetschka mengusulkan sebuah kemungkinan baru akan pemahaman kita tentang realitas, waktu dan stuktur alam semesta. Lewat sebuah teorinya tentang tiga dimensi waktu, beliau mendobrak jalan menuju teori kuantum gravitasi yang dapat menjelaskan semuanya. Hal yang belum sempat terpecahkan oleh Albert Einstein.

Namun, lebih dari 14 abad yang lalu, Al-Qur’anul Karim telah mengisyaratkan misteri waktu dalam kisah Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda yang ditidurkan Allah dalam gua selama tiga ratus sembilan tahun:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

"Dan mereka tinggal dalam gua mereka selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun lagi." (QS. Al-Kahfi: 25)

Ketika para pemuda itu tertidur dalam waktu Ilahi, dunia di luar gua mereka telah berubah. Padahal mereka merasa hanya tertidur sehari, atau bahkan setengah hari saja. Ini menjadi bukti bahwa waktu dalam genggaman Allah tidak selalu berjalan secara linier seperti yang dipahami manusia. Ia bisa dilipat, diperlambat, atau bahkan dihentikan, sesuai kehendak-Nya. Maka tidaklah mengherankan, jika dalam dunia ilmu pengetahuan, Einstein melalui teori relativitas menyatakan bahwa waktu dapat melambat dan memendek tergantung pada percepatan dan gravitasi.

Sebagai contoh, kita merasakan waktu relatif pendek dan menyenangkan ketika kita sedang lupa kepada Allah, contohnya saat kita tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam didepan layar untuk menonton tiktok. Sedangkan waktu relatif lambat dan membosankan tatkala kita sedang berada di tempat ilmu, di pengajian-pengajian, bahkan ketika kita sedang melakukan ibadah kepada Allah SWT. Naudzubillah summa Naudzubillah.

Jamaah yang dirahmati Allah.

Pada penutup khutbah kedua ini, khotib ingin kita sama-sama merefleksikan bahwa, pemahaman tentang waktu bukan hanya urusan fisika atau filsafat, tapi adalah urusan iman dan kesadaran diri. Mungkin inilah esensi dari ayat ke 3 surat Al-Ashr. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh. Dan saling menasihati akan kebenaran. Dan menasihati supaya senantiasa bersabar.



اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين

Komentar

Postingan Populer