Opini: Writer's Block atau Emang Goblok
Dunia Kepenulisan dan Mitos Writer’s Block
Perlu diingat, dunia kepenulisan tidak sesempit yang kamu bayangkan. Dunia ini begitu panjang, lebar, dan tinggi. Jika direntangkan, bentangannya bermula dari huruf pertama yang kamu tulis, hingga naskahmu rampung dan akhirnya menjadi sebuah buku.
Ketika kamu membeli sebuah buku terbitan, yang kamu lihat hanyalah hasil akhir. Padahal prosesnya jauh lebih panjang. Merampungkan naskah hanyalah 5% dari perjalanan kepenulisanmu. Tambahkan pengetahuan soal EYD, kaidah bahasa, majas, teknik narasi, serta kemampuan self-editing, barulah persentasenya naik menjadi 10%.
Sisanya? Masih ada 90% perjalanan lain. Dunia penerbitan menempati 70% dari proses itu, sementara 20% terakhir berada di tangan pembaca dan kritikus. Hanya bila melewati seluruh tahapan itulah sebuah karya bisa sampai pada titik tertinggi: menjadi masterpiece.
Coba lihat Pramoedya Ananta Toer. Dalam kondisi paling sulit—terasing, tertekan, dan serba kekurangan di Pulau Buru—ia tetap menulis. Dari situlah lahir tetralogi monumentalnya: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. Kalau Pram bisa menulis dalam kondisi ekstrem, lalu mengapa kita yang hidup lebih nyaman masih bersembunyi di balik istilah writer’s block?
Atau ambil kisah dari Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Gelandangan di Kampung Sendiri. Seorang anak Kalimantan ingin jadi penulis, tetapi terhambat karena tidak punya mesin tik. Cak Nun lalu menasihatinya: yang dibutuhkan seorang penulis adalah pikiran dan media apa pun untuk menulis. Akhirnya, anak itu menulis dengan pena di atas kertas. Sederhana, tapi nyata.
Saya sendiri pernah mengalami keterbatasan. Naskah buku pertama saya sepenuhnya ditulis menggunakan smartphone. Idealnya memang laptop atau komputer lebih nyaman, tetapi keterbatasan bukan alasan untuk berhenti menulis.
Kalau cita-citamu adalah menjadi penulis besar, buang jauh-jauh istilah writer’s block. Katakan saja terus terang: “saya malas.” Dan kalau memang malas, berhentilah bermimpi ingin menjadi penulis hebat.
Kritislah terhadap siapa saja yang menjadikan writer’s block sebagai tameng. Pertanyakan apakah karyanya benar-benar lahir dari dirinya, atau lebih banyak hasil olahan editornya? Jika bukunya dijual mahal tetapi dibangun dari kemalasan, bukankah lebih bermanfaat membeli buku panduan ujian nasional saja?
Sebagai penutup, ada sebuah kutipan dari anime Kakushi-Goto: “Jika setengah-setengah dalam membuat karya, maka karyamu tidak akan menjadi masterpiece.”
Ketika kamu membeli sebuah buku terbitan, yang kamu lihat hanyalah hasil akhir. Padahal prosesnya jauh lebih panjang. Merampungkan naskah hanyalah 5% dari perjalanan kepenulisanmu. Tambahkan pengetahuan soal EYD, kaidah bahasa, majas, teknik narasi, serta kemampuan self-editing, barulah persentasenya naik menjadi 10%.
Sisanya? Masih ada 90% perjalanan lain. Dunia penerbitan menempati 70% dari proses itu, sementara 20% terakhir berada di tangan pembaca dan kritikus. Hanya bila melewati seluruh tahapan itulah sebuah karya bisa sampai pada titik tertinggi: menjadi masterpiece.
Writer’s Block atau Pembenaran Rasa Malas?
Di banyak seminar kepenulisan, selalu ada pertanyaan tentang writer’s block. Namun, jujur saja, saya berpendapat lain. Seorang penulis yang berlindung di balik istilah writer’s block sebenarnya hanya sedang mengafirmasi kemalasannya. Itu adalah dalih paling klasik untuk menutupi ketidakdisiplinan.Coba lihat Pramoedya Ananta Toer. Dalam kondisi paling sulit—terasing, tertekan, dan serba kekurangan di Pulau Buru—ia tetap menulis. Dari situlah lahir tetralogi monumentalnya: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. Kalau Pram bisa menulis dalam kondisi ekstrem, lalu mengapa kita yang hidup lebih nyaman masih bersembunyi di balik istilah writer’s block?
Atau ambil kisah dari Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Gelandangan di Kampung Sendiri. Seorang anak Kalimantan ingin jadi penulis, tetapi terhambat karena tidak punya mesin tik. Cak Nun lalu menasihatinya: yang dibutuhkan seorang penulis adalah pikiran dan media apa pun untuk menulis. Akhirnya, anak itu menulis dengan pena di atas kertas. Sederhana, tapi nyata.
Saya sendiri pernah mengalami keterbatasan. Naskah buku pertama saya sepenuhnya ditulis menggunakan smartphone. Idealnya memang laptop atau komputer lebih nyaman, tetapi keterbatasan bukan alasan untuk berhenti menulis.
Menjadi Penulis Sejati
Maka dari itu, saya tidak akan memberi tips teknis kali ini. Saya hanya ingin mengajakmu merenung: apakah kamu ingin menjadi penulis yang sibuk membenarkan writer’s block? Atau penulis sejati yang, seperti Pram, menulis apa pun kondisinya?Kalau cita-citamu adalah menjadi penulis besar, buang jauh-jauh istilah writer’s block. Katakan saja terus terang: “saya malas.” Dan kalau memang malas, berhentilah bermimpi ingin menjadi penulis hebat.
Kritislah terhadap siapa saja yang menjadikan writer’s block sebagai tameng. Pertanyakan apakah karyanya benar-benar lahir dari dirinya, atau lebih banyak hasil olahan editornya? Jika bukunya dijual mahal tetapi dibangun dari kemalasan, bukankah lebih bermanfaat membeli buku panduan ujian nasional saja?
Sebagai penutup, ada sebuah kutipan dari anime Kakushi-Goto: “Jika setengah-setengah dalam membuat karya, maka karyamu tidak akan menjadi masterpiece.”

Komentar
Posting Komentar